Sabtu, 28 Maret 2015

Perahu Cinta

Okey balik lagi di blog saya, pertama saya ucapkan terima kasih buat yang udah mampir yeee...
Kali ini saya mau ngabahas film tentang perahu nih, setelah di blog sebelumnya sudah ngebahas tentang kapal yang ngga pernah kesorot kamera tapi tau-tau menenggelamkan "Hayati". 
"Hayati ngga kuat Udaaaaa.... tolongg Hayatiiii Udaaa....."
Lupakan Hayati diatas, sekarang kita bahas perahunya okeyy cekidottt....

Perahu Kertas 2


Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang diisi oleh Kugy (Maudy Ayunda).
Ia menjalin persahabatan dengan Noni (Sylvia Fully R), Eko (Fauzan Smith) dan Keenan (Adipati Dolken) serta Ojos (Dion Wiyoko).
So, ‘Perahu Kertas’ itu berlayar lagi. Dalam bagian kedua dari durasi panjang adaptasinya. Oh yes. Ini adalah bagian dimana perahu itu akan berhenti, menemukan tambatan dari rasa penasaran yang sudah dibangun film pertama sekaligus antusiasme para pembacanya yang bukan sedikit. Apapun alasannya, dari pemilihan pemain hingga keterlibatan Dewi ‘Dee’ Lestari dalam skenario dan produksinya, ‘Perahu Kertas’ sudah menorehkan kesuksesan yang sangat lumayan dalam perolehan penonton film kita yang makin merosot. And from the heart, pemilihan cast yang menurut banyak pembacanya ‘tak sempurna’ itu sudah meninggalkan sebuah dongeng cinta yang cantik. Sebagian pasti sudah tahu endingnya, dan mau bagaimanapun katanya Hanung Bramantyo mau memodifikasi sedikit klimaks yang paling ditunggu itu untuk jadi sedikit beda dengan novelnya, konklusinya bukan lantas jadi tak sama. Dan kita, sebagai penonton, baik pembaca maupun yang bukan pembaca, memang semua menunggu bagian kedua ini.

INI ADALAH TRAILER DARI PERAHU KERTAS 2
 
Film ini menceritakan tentang Kugy seorang mahasiswi yang punya
bakat menulis dan sangat menyukai dongeng. Ia menjalin persahabatan 

dengan Noni , Eko yang tak lain adalah
pacarnya Noni dan Keenan , sahabat Eko. Lantaran semua

dongeng yang ada dalam pikiran Kugy, Ia menjadi pribadi yang unik. Namun tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiran Kugy. Bahkan Ojos pacar Kugy, pun tidak selalu bisa mengerti dirinya. Hanya
Keenan yang mengerti Kugy. Keenan jugalah yang selalu mendorong dan
mendukung Kugy untuk terus menulis dongeng. Namun keadaan tidak
bisa membuat mereka bersatu.

 Semoga Anda tidak bingung dengan banyaknya tokoh dan banyaknya konflik awal ini. Pasalnya tokoh masih bertambah dan konflik juga masih berkembang mengikuti alur versi novel yang berjudul sama, ditulis Dewi “Dee” Lestari. Tak heran jika total durasi film Perahu Kertas sebelum di edit mencapai 4,5 jam! Pekerjaan rumah bagi Hanung sang sutradara untuk memadatkannya jadi hanya 115 menit layaknya film drama romantis lain. Syukurlah Hanung tidak memenggal cerita di sana-sini yang dipastikan bakal mengundang protes pembaca novel. Dia mengambil cara bijaksana dengan membaginya jadi dua judul film, yakni Perahu Kertas yang mulai “berlayar” pada 16 Agustus 2012 dan sequel-nya dua bulan kemudian. Dua film dalam sekali waktu syuting. Cara ini selain agar tidak mengecewakan pembaca novel, juga untuk menjaga detail dan kompleksnya cerita Perahu Kertas, serta mencegah plot loncat dan timpang. Dee yang menulis skenario berhasil membuat film ini mengalir pelan, manis, dan tak membosankan. Di atas semuanya, pemilihan Maudy Ayunda sebagai Kugy bisa dibilang sebagai prestasi terbaik.

Kelebihan dalam film ini dialognya bagus, ceritanya oke jugaa tentang pola hidup dan pertemanan orang Indonesia bangetttt....
Kalo kekurangannya.. Maudy Ayundanya masih kurang oke ngedalemin karakter Kugy, apa karena ga cocok aja kaliya meranin orang yang udah kerja gitu(?) wkwkwk
Terus kostumnya ngga konsisten sama settingnya, ada yang pas buat ngegambarin tahun '99 tapi ada juga yang engga.
Filmnya juga lama banget-___- terus juga ada adegan-adegan yang kurang penting tapi dimasukkin, ya mungkin biar "sesuai novel" kaliya wkwk tapi malah jadi bosen gara-gara itu.
Tapi untuk keseluruhan film ini cukup bagus dan harus masuk dalam list film terbaik #lebay
Dan saya saranin kalian harus nonton plus siapin popcorn yang banyak biar gabosen hahaha
makasih ya udah mampir disini :D

Dan setelah berpura-pura menjadi blogger handal seperti diatas #alamakkk ada baiknya segera saya tutup blog ini daripada kita "ngalor ngidul" gajelas nantinya wkwkwk
Akhir kata Wassalamu'alaikum wr.wb.

Senin, 09 Maret 2015

yang tak sempat tergambarkan

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Film tersebut diangkat dari sebuah novel karangan Buya Hamka dengan judul yang sama. Dan film tersebut sempat mengundang animo masyarakat untuk segera menontonnya.

Film yang digarap oleh Sunil Soraya tersebut menceritakan sebuah persoalan adat di tanah Minang, dan dikemas dengan latar sosial budaya yang berbau dengan penuh cinta.

Film tersebut mengambil latar Indonesia tahun 30an. Dimana ada seorang pemuda (Zainuddin) keturunan Minang yang berasal dari Toraja yang ingin menuntut ilmu agama di tanah kelahiran ayahnya yaitu di Batipuh. Setelah dia sampai di Batipuh disana ia bertemu seorang gadis cantik (Hayati) dan mereka mulai menjalin suatu hubungan. Namun karena hukum adat yang berlaku disana hubungan Zainuddin dan Hayati harus terputus, dan Zainuddin pun terpaksa harus pindah dari Batipuh karena dia sudah tidak memiliki ikatan darah lagi dari tanah Minang.

Dengan berat hati Zainuddin pun meninggalkan Batipuh dan Hayati menuju Padang Panjang. Sebelum berpisah, Hayati sempat berjanji kepada Zainuddin untuk selalu setia.
Saat di PadangPanjang Zainuddin tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati. Hayati lalu datang ke Padangpanjang, karena dia ingin bertemu Zaiuddin di acara balapan kuda. karena dia punya seorang kawan yang bernama Khadijah, lalu Hayati menginap di rumahnya. Khadijah mempunyai kakak laki-laki yang bernama Aziz yang diam-diam naksir pada Hayati.


Zainuddin tak berhenti untuk mendapatkan Hayati, ia mulai mengirim surat lamaran ke pihak keluarga Hayati. Bersamaan dengan itu Aziz pun juga melamar Hayati.  Pihak keluarga Hayati lebih memilih menerima lamaran Aziz karena  keadaan ekonomi aziz tercukupi dan aziz dari keturunan yang jelas. Tak seperti Zainuddin hanya pemuda biasa dari keturunan yang tak punya apa-apa.

Zainuddin pun depresi, ia sakit sampai beberapa minggu. Dan sampai akhirnya ia sadar bahwa hidupnya masih terus berlanjut dan ia  tak bisa menyiakan waktu. Zainuddin pun memutuskan untuk mengadu nasib ke tanah Jawa(Jakarta), ia ditemani abang Muluk. Disana ia mulai menulis semua pengalaman hidupnya, dan beberapa mulai diterbitkan surat kabar sampai akhirnya di bukukan. Dan di Jakarta inilah ia mengetahui adanya kapal van der wijck. Dan setelah ia mulai menjadi sukses, ia mendapat kepercayaan untuk mengelola suatu percetakan milik kerabat di Surabaya. Dan secara kebetulan Aziz dan Hayati yang sudah menikah juga tinggal di Surabaya untuk suatu pekerjaan.


Zainuddin pun semakin sukses, ia mengadakan suatu opera dari cerita karyanya yang berjudul "teroesir". Dalam opera tersebut Aziz dan Hayati pun ikut menonton dan bertemu Zainuddin. Disitu Aziz mengetahui Zainuddin telah menjadi sukses, dan berniat untuk menjadikannya teman, agar kelak bisnisnya dapat ditolong Zainuddin.
Semakin hari keadaan ekonomi Aziz semakin terpuruk sampai akhirnya semua barang termasuk rumahnya harus disita. Dan Aziz beserta Hayati harus menumpang dirumah Zainuddin.
Seiring waktu, Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati. Akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi, dan dia meninggalkan sepucuk surat yang berisi surat cerai. Kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. 



Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih kuat, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah menikah dan bersuami, cinta yang masih ada itu terpaksa harus ia pendam dalam-dalam. kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke kampung halaman di Batipuh, dan keesokan harinya Hayati berangkat menuju Batipuh menaiki kapal van der wijck. Namun di tengah perjalanan, kapal tersebut mengalami bencana dan tenggelam.


Setelah mengetahui kabar tersebut, Zainuddin dan Muluk pergi untuk mencari kabar Hayati, akhirnya ditemukan dia  berada di sebuah rumah sakit di Cirebon. Setelah beberapa waktu, Hayati akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut setelah melewati waktu bersama Zainuddin.

Dan cerita sepasang anak manusia yang saling mencintai tersebut pun harus berakhir.

Pemilihan judul menurut saya kurang tepat, karena sosok kapal yang ditunggu-tunggu penonton hanya keluar saat film mau mencapai bagian ending saja.
Namun disini sutradara ingin memeras lebih air mata penonton lewat cerita hidup si Zainuddin yang harus terusir dari kampung halamannya dan harus ditingalkan oleh orang yang ia cintai.
Film tersebut juga memberikan pesan moral dimana kita sebagai manusia tidak boleh terlalu meratapi kesedihan, seperti halnya Zainuddin yang telah bangkit dari keterpurukan cintanya.

Dan saya rasa cukup lah blog ini, setelah panjang lebar saya berkicau sebagai penulis amatiran...
Akhir kata..
Wassalam.